Pendidikan Anak Dalam Kajian Islam dan Psikologi
Pendidikan anak dalam Islam dan psikologi idealnya dimulai sejak sebelum lahir dan terus berlanjut secara bertahap sesuai perkembangan fitrah dan psikologisnya. Orang tua menjadi pendidik pertama yang menanamkan aqidah, akhlak, rasa aman, dan kelekatan emosional sebagai dasar kepribadian anak. Islam memandang anak sebagai Amanah yng harus dididik sejak memilih pasangan, masa kehamilan, hingga kelahiran dan seterusnya. Pendidikan tidak hanya menyentuh aspek kognitif, tetapi menyeluruh: iman, rohani, akhlak, jasmani, mental, dan sosial. Sementara konsep fitrah menegaskan bahwa setiap anak lahir dengan kecenderungan ilahiah untuk mengenal Allah dan cenderung pada kebaikan; tugas pendidikan adalah menjaga dan mengarahkan fitrah ini, bukan merusaknya
Sejak lahir menanamkan nilai-nilai tuhid diantaranya melalui melalui azan dan iqamah di telinga bayi serta pemberian nama yang baik sebagai doa dan identitas spiritual. Praktik ini menjadi simbol bahwa suara pertama yang menyentuh pendengaran anak adalah kalimat tauhid dan panggilan kepada ibadah. Dari sisi psikologis fase dari lahir sampai 18 bulan merupakan fase “percaya vs tidak percaya”, pada masa bayi membangun rasa aman melalui sentuhan, kedekatan dan respon konsisten orang tua. Pola asuh penuh kasih sayang, responsive, dan tidak abusive pada fase ini menjadi dasar kepercayaan diri dan kepercayaan orang lain dimasa depan.
Konsep fitrah ilahiah sejalan dengan temuan psikologi perkembangan bahwa anak memiliki potensi bawaan (fisik, kognitif, sosial, emosional) yang harus distimulasi secara tepat, bukan dibiarkan atau ditekan. Anak sejak bayi sudah memulai perkembangan kognitif (tahap sensorimotor) melalui eksplorasi indra dan interaksi dengan lingkungan. Dalam psikologis juga menjelaskan bahwa tiap tahap memiliki “krisis” perkembangan: percaya vs tidak percaya (bayi), otonomi vs ragu (18 bulan–3 tahun), inisiatif vs rasa bersalah (3–6 tahun), dan seterusnya; pendidikan yang selaras dengan tahapan ini membantu anak tumbuh sehat secara mental.
Dalam kaitannya dengan integrasi islaam dan psikologi, bahwa pendidikan anak idealnya tidak dipersempit menjadi pengajaran kognitif di sekolah, tetapi dimulai dari rumah sebagai “madrasah pertama” yang memadukan fitrah, wahyu, dan ilmu psikologi modern. Islam memberi kerangka nilai (tauhid dan akhlak), sementara psikologi perkembangan memberi peta tahapan agar metode yang digunakan sejalan dengan kesiapan jiwa anak, bukan sekadar ambisi orang tua. Titik temu penting keduanya adalah pengakuan bahwa tahun-tahun pertama kehidupan adalah masa emas; mengabaikan pendidikan sejak lahir berarti menyia-nyiakan fase penentuan arah fitrah dan pondasi kepribadian, sehingga pendidikan anak seharusnya dimulai sedini mungkin, dengan kasih sayang, keteladanan, dan kesadaran bahwa setiap interaksi adalah bagian dari ibadah mendidik amanah Allah. Wllahu a’laam (znr)

Belum ada Komentar untuk "Pendidikan Anak Dalam Kajian Islam dan Psikologi"
Posting Komentar